Jumat, 22 Oktober 2021

JUMAT ,22 OKTOBER 2021

PESAN UNTUK ORANG TUA

Assalamualaikum. wr wb 

Selamat pagi, apa kabar Ayah/Bunda? Semoga Ayah/Bunda senantiasa dalam keadaan sehat. 

Ayah/Bunda jangan lupa untuk mengingatkan ananda untuk mematuh protokol kesehatan dalam melakukan setiap aktivitas dan selalu menjaga kebersihan di lingkungan rumah agar terhindar dari penyebaran virus COVID-19 dan wabah demam berdarah. Semangat mendampingi putra putrinya di rumah sangat luar biasa. 

Pembelajaran kita masih dilaksanakan secara daring, jadi mohon bimbingan Ayah/Bunda untuk terus mendampingi ananda dalam melakukan aktivitas pembelajaran di rumah.


Materi ajar

Penilaian harian 

MATEMATIKA


Bismillah... 

Assalamualaikum anak sholeh dan sholeha.. 

Apa kabarnya hari ini? 

Semoga semua sehat dan senantiasa diberkahi oleh Allah SWT yaa... 

Nah, sholeh sholeha jangan lupa cuci tangan terlebih dahulu kita mulai lagi belajar aktif, walaupun hari ini kita masih PJJ nih...  pembelajaran kita. 

Tapi sebelum belajar, alangkah baiknya kita simak tausiyah terlebih dahulu yaa... 😊

Jika kalian sudah selesai menyimak tausiyah nya, yuk dilanjut dhuha dan Murojaah ya.... 

Mintalah bantuan kepada ayah/bunda untuk mendampingi Ananda selama melakukan kegiatan pembelajaran, ya! Jangan lupa ucapkan tolong bila minta bantuan, ucapkan maaf apabila melakukan kesalahan, dan ucapkan terima kasih.

Tujuan pembelajaran

1. Membiasakan siswa untuk membaca buku literasi "Batu Betangkup"

2. Siswa mampu memahami bentuk bentuk pecahan.


Literasi



Kisah Awal

Dahulu, ada suatu dusun di Indragiri Hilir, Riau, hiduplah seorang janda tua bernama Mak Minah. Ia tinggal bersama ketiga anaknya. Dua anak laki-laki, bernama Utuh dan Ucin. Sedangkan anak yang ketiga adalah perempuan, bernama Diang.

Walaupun sudah tua, Mak Minah masih semangat bekerja keras untuk memenuhi kehidupan ketiga anaknya. Setiap pagi, ia memasak dan mencuci. Setelah pekerjaan rumah selesai, Mak Minah pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar dan dijual ke pasar. Dari hasil inilah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.

Ketiga anaknya yang masih kanak-kanak sangatlah nakal juga pemalas. Mereka hanya bermain, tidak pernah membantu atau merasa iba pada emaknya yang mulai sakit-sakitan. Bahkan tak jarang mereka membantah nasihat emaknya sampai bersedih.

Pada suatu sore, ketiga anaknya asyik bermain didekat rumah mereka. “Utuh, Ucin, Diang… !” teriak Mak Minah. Walaupun sudah mendengar panggilan emaknya, mereka tetap diam saja. “Anak-anakku, Pulanglah! Hari sudah sore,” seru Mak Minah.

Ketiganya masih asyik bermain. Tak lama kemudian, Mak Minah memanggil mereka lagi. “Utuh, Ucin, Diang…! Pulanglah! Hari telah gelap. Emak sedang kurang enak badan. Masaklah makan malam!” kata Mak Minah. Karena lemas Mak Minah merebahkan tubuhnya di pembaringan. Tetapi anaknya masihasyik bermain. Mereka tidak menghiraukan seruan Mak Minah. Setelah menunggu lama, ketiga anaknya tidak berhenti bermain. Akhirnya, Mak Minahlah yang memasak, walau badannya lemas.

Sesudah makanan siap, Mak Minah kembali memanggil anaknya. “Utuh, Ucin, Diang… ! Pulanglah, Nak! Makan malam sudah Emak siapkan.” Setelah mendengar itu baru mereka berhenti bermain. Lalu, mereka langsung ke dapur dengan lahapnya menghabiskan makanan itu tanpa menyisakan untuk emaknya. selesainya makan, mereka kembali bermain tanpa membantu mencuci piring.

Hari semakin malam, sakit Mak Minah pun semakin parah. Badannya lemah dan pegal-pegal karena kelelahan bekerja. “Utuh, Ucin, Diang… ! Tolong pijat Emak, Nak!” minta Mak Minah pada anaknya. Namun, mereka pura-pura tidak mendenga dan terus bermain sampai larut malam.

Mak Minah hanya bisa meratapi nasibnya. “Ya Tuhan, tolong hamba! Sadarkanlah ketiga anakku, supaya peduli pada Emaknya yang tak berdaya ini,” do’a Mak Minah seraya menangis. Akhirnya Mak Minah pun tertidur.

Keesokan paginya Mak Minah bangun pagi sekali untuk memasak nasi dan lauk yang banyak. Setelahnya, Mak Minah pergi ke tepian sungai dekat gubuknya tanpa memberi tahu anaknya. Ia mendekati sebuah batu bernama batu betangkup yang katanya bisa berbicara dan bisa membuka serta menutup seperti kerang.


Tragedi Batu Betangkup

Mak Minah berlutut didepan batu itu dan memohon supaya menelan dirinya. “Wahai Batu Batangkup, telan diriku. aku sudah tidak sanggup hidup bersama ketiga anak ku yang tidak mendengar nasihat,” pinta Mak Minah.

“Apakah kau tidak akan menyesal, Mak Minah?” tanya Batu Batangkup. “Lalu, bagaimana nasib dari anak-anakmu?” lanjut Batu Batangkup.

“Biarkan mereka hidup sendiri tanpa emaknya. Mereka sudah tidak perduli pada emaknya,” jawab Mak Minah.

“Baiklah, kalau itu inginkanmu,” jawab Batu Batangkup.

Dalam sekejap Batu Batangkup menelan Mak Minah dan hanya menyisakan rambut panjangnya tampak di luar.

Ketika hari sudah sore, ketiga anak Mak Minah pulang bermain dan langsung menyantap makanan yang disiapkan Mak Minah. Mereka heran karena emaknya belum pulang. Namun melihat persediaan makanan masih banyak, membuat mereka tidak peduli.

Dua hari kemudian, persediaan makanannya sudah habis. Sedangkan Mak Minah belum pulang ke rumah membuat ketiga anaknya kebingungan. Mereka mencari ke sana ke mari tetap tidak menemukan Mak Minah. “Emak, maafkan kami! Kami menyesal tidak peduli pada Emak…,” sesal ketiga anak itu.

Paginya, ketiga anak itu kembali mencari emaknya mereka menyusuri sungai sampailah mereka di depan Batu Batangkup. Mereka terkejut ketika melihat rambut emaknya terurai di sela-sela Batu Batangkup.

“Wahai, Batu Batangkup! Keluarkan Emak kami dari perutmu. Kami butuh Emak kami,” pinta ketiga anak itu. Tetapi Batu Batangkup diam saja,  ketiga anak itu terus memohon supaya emaknya dilepaskan.

“Tidak! Kalian hanya membutuhkan emak kalian saat lapar. Kalian tidak pernah membantu serta mendengar nasihat emak kalian,” ujar Batu Batangkup.

“Batu Batangkup! Kami berjanji akan membantu emak serta mematuhi nasihatnya,” jawab Utuh sambil menangis. “Iya, Batu Batangkup, kami janji,” tambah Uci dan Diang turut menangis.

“Baiklah, emak kalian akan ku keluarkan karena kalian sudah berjanji. Apabila kalian ingkar janji, emak kalian akan kembali kutelan” ancam Batu Batangkup.

Setelah emak mereka di keluarkan mereka berkata:

“Maafkan Utuh, Emak!” “Uci juga, minta maaf Mak! Uci janji akan mematuhi nasihat Emak,” “Iya, Mak! Diang juga minta maaf. Diang janji akan membantu Emak!”. “Sudah, Anakku! Kalian Emak maafkan,” jawab Mak Minah. Setelah itu, mereka pun pulang.

Semenjak itu, ketiga anak tersebut rajin membantu Mak Mina bekerja. Utuh dan Uci membantu mencari kayu bakar di hutan untuk dijual. Sedangkan Diang, sibuk menyiapkan makanan dirumah. Mak Minah merasa gembira melihat perubahan anak-anaknya.



Exercise

1. Apa pesan moral dari cerita di atas..

2. Berfotolah bersama dengan ibumu dengan perasaan sayang dan kirimkan dengan gurumu !


Siswa mengerjakan soal penilaian harian ke 3 Matematika 


MTK KE 3

https://docs.google.com/forms/d/1C4Udj0AxDPH8aC1kw1RLu1JhUbNu0I1wOSYBIc5_EVs/edit?usp=drivesdk


Jangan lupa ucapkan terimakasih kepada ayah bunda yang telah mendampingi Ananda belajar di rumah hari ini! 


Mari kita akhiri kegiatan belajar di rumah hari ini dengan membaca doa sesudah belajar.

Kerjakan tugasmu membaca  dan berfoto bersama ibumu dan mengerjakan penilaian harian 3 melalui google form dan  fotokan waktu mengerjakan,  kegiatan hariannya dan jangan lupa sertakan foto bersama ibumu dan jadika kolase kemudian kirimkan pada Ibu Guru 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Tidak ada komentar:

Posting Komentar